Korupsi, Penduduk Muslim Terbesar di dunia, dan peringatan Allah SWT
Linkedin

Korupsi, Penduduk Muslim Terbesar di dunia, dan peringatan Allah SWT

Depok : Indonesia | Apr 15, 2010 at 12:13 PM PDT
XX XX
Views: Pending
 

Korupsi, Penduduk Muslim Terbesar di dunia, dan peringatan Allah SWT

Oleh: Muhammad Jusuf*

Di dalam sejarah Indonesia sejak Merdeka, Indonesia dari sejak awal bahkan sampai kini telah mendapat predikat dari berbagai lembaga Internasional sebagai Negara terkorup di Asia Pacifik, bahkan di dunia.

Berbagai upaya untuk memberantas korupsi sudah banyak dilakukan. Bahkan ini sudah pernah diupayakan sejak pemerintahan dipimpin Presiden kedua Indonesia Suharto, bahkan kini dibawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sudah memasuki periode kedua tahun kedua dari Kepresidenannya.

Kasus korupsi, kolusi dan nepotisme belakangan ini kembali menarik perhatian media massa di Indonesia setelah muncul kasus Gayus Tambunan, seorang pegawai Direktorat Pajak Departemen Keuangan yang hanya golongan IIIA, namun sudah bisa mengantongi uang sebanyak Rp 28 miliar. Walaupun dia bukan tergolong berlatar belakang keluarga kaya. Namun, kayus Gayus sayangnya bukan dari hasil investigasi dari lembaga yang ada seperti Komisi Pemberantasan Korupsi atau lembaga pemerintah lain, malahan justru berkat ‘’suara’’ dari mantan Kabareskrim Polri Jenderal Berbintan Tiga Susno Duadji. Terlepas dari ada kemungkinan maksud lain, kalau kasus Gayus yang menurut Susno adalah perkara dan kasus kecil ini tidak diungkapkannya, mungkin kasus korupsi yang menurut banyak kalangan seperti ‘’Puncak Gunung Es’’, artinya yang diketahui dan dapat diinvestigasi hanya sebagian kecil dari gurita raksasa yang ada sampai sekarang belum terkuak banyak..

Padahal pemberantasn korupsi, baik pendekatan politik dan hukum sudah menjadi tugas Pemerintah. Jadi, apakah predikat Indonesia masih menjadi Negara terkorup di dunia, tidak lepas dari prestasi pemerintah dari segi pendekatan politik dan hukum yang belum mampu mengatasi masalah korupsi, kolusi dan nepotisme yang menurut banyak kalangan sudah ‘’mendarah daging’’ menjadi semacam budaya.

Yang membuat kita kecil hati dan memalukan adalah. Kita kan Negara berpenduduk ke empat terbesar di dunia, dengan total jumlah penduduk diperkirakan mencapai 230 juta, mayoritasnya kan penduduk Muslim. Ini artinya, mereka yang korupsi adalah mereka yang juga beragama Islam. Tidak heran, dari sejak zaman Pemerintahan Soeharto, koruptor ini tidak saja dilakukan mayoritas penduduk Muslim mulai dari tingkat seorang Lurah, staf biasa seperti Gayus, sampai bekas Menteri dan tokoh masyarakat lain, bahkan banyak diantara mereka ketima masih mudah bekas tokoh pemimpin Organisasi Pemuda Islam, tetapi setelah menjadi pejabat terlibat korupsi..

Saya tidak membahas mengenai korupsi dan cara mengatasinya melalui pendekatan politik dan hukum yang memang menjadi tugas pemerintah dan menjadi tugas para ahli lain, atau model-model yang dilakukan Pemerintah China yang menghukum mati setiap koruptor berat, sehingga China dianggap sebagai salah salah satu Negara yang sukses di dunia dari Negara yang banyak koruptornya menjadi sangat berkurang drastis, sehingga berkurangnya koruptor telah mendukung pertumbuhan ekonominya menjadi tercepat di dunia dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 10% per tahun.

Keberhasilan China mengatasi korupsi ternyata membawa dampak pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat, hal ini mengingat bahwa korupsi bagaimana pun juga telah memberi dampak runtuhnya nilai-nilai luhur seperti amanah, kejujuran dan penghormatan pada eksistensi orang lain dan penghargaan terhadap hak-hak orang lain. Keberagaman bangsa ini juga runtuh oleh korupsi. Budaya korupsi dalam jangka panjang akan mendorong pengabaikan terhadap ajaran agama.

Kemudian, efek buruk korupsi adalah bagi perekonomian Negara, karena korupsi mengurangi pendapatan dari sektor publik dan meningkatkan pembelanjaan pemerintah untuk sektor publik. Korupsi juga memberikan kontribusi bagi matinya etos kerja masyarakat, karena income inequality yang dtimbulkan korupsi, yakni kesempatan individu dalam posisi tertentu bisa mendapatkan keuntungan seperti seorang Gayus.

Korupsi juga menyebabkan terjadinya eksploitasi sumberdaya alam oleh segelintir orang, tidak heran bila orang-orang kaya di Indonesia umumnya bersentuhan dengan unsur korupsi, nepotisme dan kolusi. Ini sudah saya beberkan fakta-faktanya dalam berbagai tulisan saya terdahulu, dan telah dimuat di Allvoices, baik pengalaman praktis saya ketika menjadi pegawai negeri sampai menjadi wartawan selama lebih 25 tahun.

Dampak sosialnya, korupsi memiliki dampak yang sangat dahsyat terkait dengan merosotnya human capital. Ketiadaan infratruktur yang cukup bagi pelayanan pendidikan dan kesehatan menyebabkan masyarakat kebanyakan rentan terhadap berbagai penyakit dan rendah dalam kompetensi.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip Surat Al-Ahzab (33), ayat 72 dari Al-Qur’an yang artinya berbunyi: ‘’Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semua-nya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh’’.

Dari Adi Ibnu Amiroh Al Kindi r.a ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. Bersabda, ‘’Barangsiapa yang kami angkat diantara kamu memangku suatu jabatan, lalu menyembunyikan dihadpan kami sebuah jarum atau yang lebih kecil dari itu, maka perbuatan itu adalah korupsi, dia akan dating pada hari kiamat nanti membawa barang yang dikorupsikan itu’’,

Dari Annas ra. Ia berkata, Rasulullah saw, bersabda, ‘’Seumpama manusia itu mempunyai harta benda sebanyak dua lembah, mereka tetap masih ingin mendapatkan suatu lembah lagi. Tidak ada yang dapat mengisi perutnya yang penuh, melainkan tanah (kematian). Dan Allah menerima tobatnya orang yang bertobat kepadaNya.’’

Masih maraknya korupsi di Indonesia, bukankah itu berarti Umat Islam di Indonesia masih belum mengerti atau khilaf atau lalai atas amanah yang diberikan Allah SWT. Bila ini terus dibiarkan, maka semua ini akan menjadi tanggungan kita semua, baik kesulitan hidup di dunia, maupun ancaman siksaan di Akherat. Inilah yang harus kita atasi masalahnya secara bersama-sama.

  • Dosen Jurnalistik Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah, Depok.

 
  • Clear
  • Share:
  • Share
  • Clear
  • Clear
  • Clear
  • Clear
 
 
 
Advertisement
 

Blogs

 >
  • MOtivasi

    Submitted By: maisongerai | 3 months ago

    Saudaraku sebangsa dan setanah air…
    Pada era sekarang ini sudah bukan zamannya lagi mencari uang
    dengan cara kuno yang sangat melelahkan. Dimana,
    - jika anda bekerja perhari, akan di bayar perhari
    - Jika anda

More From Allvoices

Report Your News Got a similar story?
Add it to the network!

Or add related content to this report

Most Commented Reports



Use of this site is governed by our Terms of Use Agreement and Privacy Policy.

© Allvoices, Inc. 2008-2014. All rights reserved. Powered by PulsePoint.