Drama musikal “Semut Merah”. June 15 – 17, 2012. Di Teater Jakarta Indonesia.
Linkedin

Drama musikal “Semut Merah”. June 15 – 17, 2012. Di Teater Jakarta Indonesia.

Jakarta : Indonesia | Jun 15, 2012 at 4:51 AM PDT
XX XX
Views: Pending
 

Titiek Puspa, sutradara dari pertunjukan ini melihat cinta sebagai hal yang Universal dan Cantik. Sebagai cita-cita hidup manusia di Era Berbangsa dan Bernegara. Ini clue dari pertunjukan “Drama Musikal Semut Merah”.

Pertanyaan kemudian; Apakah cinta yang menjadi impian Titiek Puspa. Juga menjadi cita-cita Pemimpin Bangsa Indonesia terkini? Setelah Era Founding Father Soekarno-Hatta. Setelah revolusi Indonesia merebut kemerdekaan bagi Bangsanya? Pertanyaan cinta itu agaknya, perlu di garis bawahi di system pemerintahan terkini, yang dibentuk bersama rakyat. “Mencintai rakyat?” masih menjadi utopia di Era terkini.

“Cinta. Harus melahirkan pribadi yang tangguh, demi kelangsungan hidup sebuah bangsa. Melarang anarkisme politik mengganggu stabilitas nasional, dalam fokus berbangsa dan bernegara”. Menurut saya.

Titiek Puspa prabadi artis yang menjadi teladan artis-artis Indonesia kini. Titiek Puspa adalah Indonesia di karya “Semut Merah” dan karya-karyanya di seni suara, seni peran, di keindahan cinta pulau-pulau di Indonesia.

Pertunjukan ini akan mendapat format tepat jika di gelar di "Gedung Graha Bhakti Budaya" Taman Ismail Marzuki Jakarta Indonesia. Tidak di gedung "Teater Jakarta" yang menurut saya belum memenuhi syarat sebagai sebuah gedung pertunjukan professional, meski di bangun lebih dari 15 tahun lamanya. Meski secara fisik bentuk “auoditorium to precenium”, mirip dengan Gedung New York Theatre abad 18. Bagus sebagai sebuah cita-cita dan idea. Tapi tidak bagus pada “Electronic Flying System”, yang tidak berjalan mulus dan cenderung membanting “Flaying Scenery Pohon”, di pertunjukan “Semut Merah”, misalnya. Sangat mengganggu fokus pertunjukan. Ini indikasi bahwa team pekerja pembuatan gedung, yang di prakarsai oleh pemda setempat tidak menguasai “Stage Equipment”, dan sangat mungkin tidak konsultasi dengan pakar teater di Indonesia, sebut saja, di Indonesia ada; N. Riantiarno, Putu Wijaya, misalnya. Mengapa hal itu terjadi? (“Flying Scenery Pohon”, sebagai contoh di atas). Karena team disain “Teater Jakarta”, melupakan “Counterweight System” yang masih menjadi bagian penting dari “Flying System Scenery” di Gedung Teater Modern/Profesional di masa kini.

Ada contoh yang baik dari “Counterweight System”, Lihat dan simak Design "Gedung Kesenian Jakarta", di "Pasar Baru" tempo dulu dan yang terkini, tidak berubah. Gedung Kesenian itu di bikin oleh Bangsa Eropa di zaman kolonial, dengan benar dan tidak ada yang salah. Mengapa harus mengarang hal yang tidak lazim di “Stage Equipment?”. “Electronic Flying System” boleh saja kalau bagus, tapi tetap saja harus ada “Counterweight System”, informasi lengkap bisa tanya gratis ke Teater Koma. Apa yang di sebut “Counterweight System”. Perlu di catat oleh team pembuat Gedung "Teater Jakarta"; Bahwa; Bangsa Eropa punya sejarah panjang tentang “Bagaimana membangun sebuah gedung teater dengan benar”, riset dan study, jangan mengarang sendiri.

Kelemahan utama pada pertunjukan "Semut merah" tampak pada koreografi dan tata laksana dramaturgi; indikasi bahwa “Pengarah Seni”, tidak menguasai tata laksana pentas dramaturgi, misal pada kasus; Exit dan Entrance dari sebuah adegan teater musikal “Semut Merah” ini.

Dalam seni dramaturgi musical seperti ini, music menjadi karakter, berperan menjadi adegan, memberi makna pada karakter dan teks nyanyian. Di sisi ini Dian HP, cukup baik membawa adegan menjadi “The musical scenery of expression in dramaturg inside”. Ini wajar. Dian HP, berpengalaman di seni musik dan teater. Musik untuk “Semut Merah” bagus, untuk di nikmati penonton, segala usia.

Selanjutnya sejauh mana kerja “Pengarah Seni” Ari Tulang? Disini tampak, di beberapa adegan seni bloking kurang tergarap dengan baik dan sistematik, berpengaruh pada metrik “Scene by Scene”, menjadi kurang cantik. Perlu di beri catatan kepada Ari Tulang ; Yang harus di ingat bahwa exit dan entrance di sebuah stage atau adegan. Apakah itu di seni tari atau di seni ketoprak, sama; Exit dan Entrance. Harus ada makna suspen menuju adegan selanjutnya. Meskipun “Seni Creative Drama Musikal Semut Merah” di gladiresik. Justru gladiresik June 14, 2012. Pukul 15.00 WIB. Adalah tolok ukur standar pagelaran seni pertunjukan “Semut Merah”, di hari-hari selanjutnya.

Beruntung. Titiek Puspa sebagai sutradara, berpengalaman di berbagai latar belakang seni pertunjukan. Membimbing para pelaku seni peran dengan caranya. Hingga para pelaku seni peran “Semut Merah” cukup cantik memainkan seluruh peristiwa yang terjadi di pagelaran “Semut Merah”. Meskipun kostum yang di rancang oleh Ivan Gunawan, agak sedikit mendekati, karakter dari peranan masing-msing. Meski dunia anak-anak tak selalu warna warni dan tidak perlu ada bantal perut semut di belakangnya, jadi terkesan cerewet pada info visual. Jangan lupa Ivan Gunawan?; Bahwa; Ada kepedihan dan kegembiraan disana, di antara cinta dan kehidupan dunia seni peran “Semut Merah”. Di sisi ini Ivan belum mencapai pada, yang disebut “kostum adalah salah satu elemen karakter peranan”. Meski Ivan memahami, terang tetap datang pada; Dua mempelai Semut dengan Warna Putih.

Diantara seni tata artistik panggung yang di garap dengan cermat oleh Hardiman Radjab, scenic artist; Dengan team artwork; Ferry Rusyamsi, technical stage master; Aciel Noviansyah, property master stage. Sangat tepat sasaran pada etos pemilihan warna dan bentuk indrawi dunia pentas untuk anak-anak.

Seni Lighting oleh Donni De Birkut. Cukup berhasil memberi aksentuasi pada adegan. Meski gagal atau kurang tepat, membangun suasana di adegan sarang semut dan sedikit “out of brigthness” pada “term of color filter” di set properti kipas, akibatnya set properti kipas, kurang menyala di “stage legs” kiri dan kanan.

Catatan penting ke satu, untuk team managerial panggung “Semut Merah”; Biasakan mengunjugi proses pembuatan properti panggung, dan melihat ukuran sebenarnya dari skala disain gambar yang sudah ada untuk "property to stage scenery of dramaturg". Agar anda dapat menghemat waktu dan kecepatan kerja pada saat persiapan teknik “flaying scenary” atau properti lainnya. Ini sangat penting untuk mencapai perfeksi rundown dari adegan. Jangan mencontoh kemalasan atau alasan tidak ada waktu atau sibuk. Menjadi pekerja panggung profesional harus senantiasa ada waktu. Salah satu kunci keberhasilan sebuah pertunjukan adalah; Anda tahu dengan tepat kapan waktunya, “scenery to antrance, go exit atau flying down and up”. Sangat sederhana. Tapi akan mendapat kendala jika anda tidak meriset atau melihat ukuran asli properti panggung, jenis bahan yang di pakai, daya berat dan daya dorong.

Menjadi manager panggung bukan sekedar “go show”. Tapi tahu betul dan menguasai teknik tata laksana pentas agar anda; Cermat, smart, akurat. Jangan pernah berhenti belajar, dan merasa sudah bisa. Karena panggung punya anatomi tubuh yang senantiasa berubah sesuai dengan pertunjukan yang akan pentas.

Catatan penting ke dua, pada saat pertunjukan berlangsung. Jangan pernah membiarkan siapapun menaruh camera elektronik/video dengan tripod di tengah baris kursi penonton. Ini salah dan buruk. Sediakanlah tempat kamera elektronik/video di sudut tertentu, ini salah satu tugas management panggung. Ini terjadi (saya nonton dan melihat) waktu gladiresik “Semut Merah” June 14, 2012. Pukul 15.00. WIB.

Apapun dan bagaimanapun “Semut Merah”. Titiek Puspa dan kawan-kawan adalah “Semut Merah Indonesia”, yang terus berada di ranah creative dengan Cinta Putih. Salut. Bung Mus Mualim, melihatmu dari surga, Eyang. Sukses untuk “Semut Merah”.

Jakarta, Indonesia, June 15, 2012.
Taufan S Chandranegara.

TaschTaufan is based in Jakarta, Jakarta, Indonesia, and is a Reporter on Allvoices.
Report Credibility
 
  • Clear
  • Share:
  • Share
  • Clear
  • Clear
  • Clear
  • Clear
 
 
 
Advertisement
 

Blogs

 >

More From Allvoices

Report Your News Got a similar story?
Add it to the network!

Or add related content to this report

Most Commented Reports



Use of this site is governed by our Terms of Use Agreement and Privacy Policy.

© Allvoices, Inc. 2008-2014. All rights reserved. Powered by PulsePoint.